Ableisme bukan sekadar bentuk diskriminasi yang kasat mata seperti pengusiran penyandang disabilitas dari tempat umum atau ejekan terang terangan. Ia bisa hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus, bahkan sering muncul dari niat yang terkesan baik, sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa sikap atau tindakannya sebenarnya ableis. Memahami bagaimana ableisme bekerja menjadi penting, terutama bagi mereka yang merasa dirinya sudah suportif terhadap isu disabilitas namun belum tentu benar benar bebas dari bias.

Apa itu ableisme?

Secara sederhana, ableisme adalah kumpulan kepercayaan, anggapan, bias, sikap, perasaan, dan tindakan yang merugikan individu atau kelompok disabilitas. Asumsi dasarnya adalah bahwa disabilitas membuat seseorang inferior dibandingkan nondisabilitas, baik dari sisi kemampuan, keberhargaan diri, maupun moral.

Pesan pentingnya sederhana namun tegas: ableisme bisa ada di mana saja, termasuk pada institusi negara, media, ruang kesehatan mental, bahkan dalam diri penyandang disabilitas itu sendiri.

Tiga dimensi ableisme

Ableisme dapat dipetakan melalui tiga dimensi psikologis yang saling berkaitan.

Pertama adalah dimensi kognitif, yang berupa stereotipe dan bias, semacam keyakinan yang tertanam di kepala. Kedua adalah dimensi afektif, yaitu prasangka atau perasaan negatif terhadap disabilitas. Ketiga adalah dimensi perilaku, yang terwujud sebagai diskriminasi nyata dalam tindakan.

Ketiga dimensi ini juga bisa dibedah dari sisi visibilitasnya, mulai dari yang terang terangan dan disadari hingga yang tersembunyi dan tidak disadari. Pelakunya pun beragam, bisa bersifat sistemik dari institusi, datang dari kelompok luar, atau bahkan terinternalisasi dalam diri penyandang disabilitas sendiri. Dari sisi intensi, ableisme bisa bersumber dari niat yang jelas jelas bermusuhan, tetapi tidak jarang justru muncul dari niat yang terkesan baik hati.

Enam wajah ableisme dalam keseharian

Meniadakan emosi (invalidating emotions)

Bentuk ini muncul saat rasa kasihan diarahkan kepada penyandang disabilitas, seolah keberadaan mereka identik dengan penderitaan. Dalam praktiknya, hal ini terlihat ketika disabilitas dijadikan objek amal atau charity, dijadikan sumber inspirasi dan motivasi supaya orang tanpa disabilitas merasa lebih bersyukur, atau bahkan dianggap sebagai bentuk kesialan maupun azab. Semua ini pada dasarnya menempatkan pengalaman disabilitas sebagai sesuatu yang harus dikasihani, bukan dipahami sebagai bagian dari keragaman hidup manusia.

Hierarki disabilitas (hierarchy of disability)

Tidak semua disabilitas diperlakukan setara, bahkan dalam wacana yang mengklaim mendukung inklusi. Kondisi disabilitas yang lebih terlihat kasat mata, bersifat fisik, dan memiliki derajat keparahan besar sering dianggap lebih "valid" dibandingkan kondisi disabilitas lain, seperti disabilitas tak tampak akibat penyakit kronis atau kondisi kesehatan mental. Hierarki semacam ini menciptakan eksklusivitas dan kerentanan berlapis bagi kelompok yang dianggap kurang "layak" diakui.

Disabilitas sebagai bahasa kasar (disability as a slur)

Istilah istilah terkait disabilitas kerap dijadikan cemoohan, hinaan, atau label negatif dalam percakapan sehari hari, baik secara langsung maupun melalui media seperti media sosial dan karya seni. Kata kata yang sebenarnya merujuk pada kondisi disabilitas, ketika dipakai sebagai ejekan, turut melanggengkan pandangan bahwa disabilitas adalah sesuatu yang buruk atau memalukan.

Menolak akomodasi (denying accommodation)

Bentuk ini bisa berupa penolakan yang terang terangan, tetapi juga bisa muncul dalam wujud saran atau rekomendasi yang sebenarnya tidak sesuai kebutuhan dan tidak menghargai otonomi individu disabilitas. Memberi bantuan tanpa mendengarkan apa yang sebenarnya dibutuhkan sama saja dengan mengabaikan hak seseorang untuk menentukan pilihannya sendiri.

Menolak mengakses akomodasi (refusing to access accommodation)

Ableisme juga bisa terinternalisasi dalam diri penyandang disabilitas sendiri, misalnya ketika seseorang merasa dirinya tidak berhak atau tidak pantas menggunakan alat bantu dan akomodasi yang sebenarnya ia butuhkan. Pola ini rentan muncul ketika individu disabilitas terus menerus berada di lingkungan sosial yang ableis, sehingga bias negatif tersebut ikut terserap ke dalam cara mereka memandang diri sendiri.

Pendekatan terapi yang tidak afirmatif (non-affirming therapy approaches)

Beberapa metode terapi psikologi mendapat kritik karena cenderung memandang kondisi disabilitas mental tertentu semata mata sebagai abnormalitas, bukan sebagai bagian dari variasi dan keberagaman manusia. Pendekatan semacam ini berisiko menciptakan pengalaman traumatis, justru di ruang yang seharusnya menjadi tempat pemulihan.

Dari kasihan menuju empati

Ada pergeseran cara pandang yang sederhana namun mendasar yang bisa dilakukan siapa pun untuk mulai keluar dari pola ableis: gantikan rasa kasihan dengan empati dan welas asih.

Banyaknya bentuk ableisme yang justru tidak disadari menjadi pengingat penting akan perlunya humility dan keterbukaan diri, yaitu kesediaan untuk mengenali dan mengakui bias yang mungkin masih dimiliki, lalu secara bertahap berupaya menguranginya. Memahami ableisme bukan tentang mencari siapa yang salah, melainkan tentang membangun kesadaran kolektif agar ruang ruang di sekitar kita, mulai dari percakapan sehari hari hingga kebijakan publik, benar benar terbuka bagi semua orang tanpa terkecuali.

Tentang Raissa Fatikha

Halo! Aku Raissa. Aku co-founder dari Ragam Wajah Lara (inisiasi edukasi isu penyakit kronis di usia muda dengan perspektif biopsikososial) dan Komunitas Disabilitas UI (untuk mahasiswa UI dengan disabilitas) :)