Sudah larut malam saat saya ngobrol dengan Raissa tentang persidangan pertama. Raissa adalah Pemohon I dalam permohonan uji materiil UU Disabilitas di Mahkamah Konstitusi. Saat itu ia baru saja selesai mengikuti sidang. Dari obrolan itu kami sepakat, kami butuh wadah untuk mengenalkan isu ini ke publik.

Saya mulai memikirkan beberapa nama seperti “tak terlihat”, “tak tampak”, dan variasi lainnya. Saya sadar bahwa saya bukan “invisible” sebagai pribadi, tetapi disabilitas sayalah yang tidak terlihat. Itulah alasan saya memilih nama Tidak Terlihat: karena “disabilitas saya tidak terlihat oleh orang lain.” Baru setelah rilis saya mengetahui bahwa Persatuan Reumatologi Indonesia membakukan istilah yang mirip: disabilitas taktampak.

Logo

Saya teringat obrolan saya dengan Sarai tentang Hidden Disability Sunflower, sebuah gerakan agar individu dengan disabilitas taktampak bisa mendapatkan akomodasi yang layak di ruang publik. Setelah mempelajari hak cipta dan mereknya, saya memutuskan untuk mengadaptasi konsep bunga matahari ke proyek ini.

Kali ini saya ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Saya sudah bosan dengan logo vektor yang serba rapi, meskipun idealnya logo memang harus vektor agar bisa scalable. Perkiraan saya, gerakan ini tidak akan turun ke jalan. Kalaupun perlu dicetak, ukuran 2048px masih cukup untuk poster A2 tanpa terlalu pecah dilihat dari jauh.

Logonya saya buat hanya dalam hitungan menit di Procreate, sambil menunggu anak saya di kursus Bahasa Inggris.

Gambar bunga matahari dibuat dengan tangan

Tone and manner

Sama seperti logonya, saya ingin implementasi desain terasa clean, modern, tapi tetap ada sentuhan manusia. Saya memilih ilustrasi digital untuk hampir semua elemen visual di website maupun media sosial.

Alasannya sangat personal: isu ini adalah cerita saya sendiri. Saya ingin kepribadian saya terlihat lewat visual. Misalnya, goresan garis yang tidak rata pada gambar bukan sekadar gaya, tetapi berasal dari tremor di tangan dominan saya. Apa yang mungkin terlihat sebagai “ketidaksempurnaan” justru adalah jejak pengalaman hidup.

Website

Proses konsep dan eksekusi website berlangsung cepat. Dalam empat jam saya sudah menyelesaikan konsep awal. Delapan jam kemudian, HTML dan CSS sudah jadi. Yang memakan waktu lebih lama adalah ilustrasi dan konten, karena harus bolak-balik berdiskusi dengan anggota tim.

Di tengah proses ini, sesuatu yang tak terduga terjadi: Felicia, rekan kerja saya di kantor sebelumnya, menawarkan diri untuk membantu mengerjakan konten. Dukungan itu memberi energi tambahan, terutama saat saya harus menyeimbangkan arah visual dan alur cerita situsnya.

Total saya menghabiskan sekitar 40 jam untuk memastikan website siap tayang dan media sosial siap diluncurkan.

Konsep utama di hero section merefleksikan nama proyek, Tidak Terlihat. Ada wajah-wajah tersenyum yang terlihat baik-baik saja, padahal di baliknya ada disabilitas yang tidak tampak. Target awal saya adalah membuat 18 ilustrasi wajah, tapi karena keterbatasan waktu, hanya sembilan yang selesai.

Alur cerita di situs dimulai dari pengenalan kampanye, lalu proses persidangan, apa yang bisa dilakukan orang lain, hingga cerita para pejuang penyakit kronis. Saat tulisan ini dibuat, bagian cerita menjadi salah satu yang paling engaging, dengan banyak tautan keluar ke situs Aksesibel.

Sebenarnya website ini sudah siap tayang sejak 16 Agustus, tapi saya menunggu keputusan dari Tim Pemohon dan Kuasa Hukum. Barulah pada 18 Agustus saya merilisnya ke publik.

Ruang kerja kami di Figma dengan laman utama di tengah dan beberapa coretan di sampingnya

Social media

Untuk media sosial kami memutuskan hanya menggunakan Instagram. Saya memulainya dengan tiga postingan awal yang saya rasa bisa membuat audiens merasa relevan dengan kondisi mereka sendiri. Dua postingan membawa pesan langsung: dalam bahasa Indonesia, “Kami terlihat sehat, tapi disabilitas kami tidak terlihat” dan dalam bahasa Inggris, “We are not invisible, our disabilities are.” Dua postingan ini saja sudah menarik lebih dari 200 followers dalam kurang dari dua hari. Memang ada sedikit iklan berbayar, tapi hanya sekitar 15% pertumbuhan yang datang dari sana — sisanya organik.

Postingan ketiga menjelaskan logo dan alasan saya mengadopsi bunga matahari sebagai simbol. Setelah itu, saya menyiapkan konten untuk seminggu ke depan: penjelasan tentang apa itu penyakit kronis, apa itu disabilitas, apa itu disabilitas taktampak, hingga kenapa uji materiil dilakukan. Semua diselingi dengan cerita para pejuang.

Kenaikan organik ini bisa terjadi karena kerja sama tim. Kami sama-sama menyebarkannya ke network masing-masing. Saya menyebarkannya di LinkedIn, yang mendapatkan lebih dari 200 likes, juga di berbagai grup WhatsApp, akun X/Twitter pribadi, dan Instagram. Upaya gabungan ini membuat jangkauan jadi lebih luas dibandingkan hanya mengandalkan satu kanal.

Beberapa Instagram Post di Figma yang siap diterbitkan

Closing

Dalam seminggu sejak rilis Instagram, kami sudah mendapat 400 followers dengan 43.600 views dan 1.200 interactions. Untuk website sendiri, dalam 24 jam sudah dikunjungi 400 kali.

Mengerjakan proyek ini sangat pribadi buat saya. Melaluinya, saya akhirnya mengakui kalau saya memiliki disabilitas — sesuatu yang sebelumnya sudah saya tulis di blog post ini. Kampanye ini bukan hanya tentang meningkatkan kesadaran, tetapi juga tentang menerima perjalanan saya sendiri.

Saya juga belajar pentingnya bergerak cepat dan sederhana. Hanya dengan obrolan di WhatsApp dan sekali video call untuk onboarding Feli, kami bisa menghasilkan sesuatu yang berdampak untuk orang lain.

Ngobrol di Zoom bareng Raissa dan Feli

Selain itu, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Sarai atas inspirasinya yang membantu membentuk proyek ini.

Bantu kami menjangkau lebih banyak orang

Kunjungi situs web TidakTerlihat.ID untuk mengetahui lebih banyak tentang gerakan ini. Ikuti Instagram kami di @TidakTerlihat.ID, dan repost poster kami.

Poster Tidak Terlihat


Tulisan ini pertama kali dipublish di rifatnajmi.com/id/journal/tidak-terlihat.

Tentang Rifat Najmi

Rifat adalah desainer produk dan profesional aksesibilitas bersertifikasi CPACC dari IAAP. Ia menginisiasi situs ini untuk meningkatkan kesadaran tentang hak disabilitas dan aksesibilitas digital. Sehari-hari ia bekerja di sebuah startup health-tech, dan di waktu luangnya ia merawat kura-kura serta berkebun.