Aku mulai merasakan gejala batuk tiada henti, sesak napas, dan mual. Di tahun 2022, aku tidak lagi sanggup menahan sakit. Oleh karenanya, aku akhirnya memutuskan untuk pergi ke salah satu RS di Jakarta Utara. Meskipun sebelumnya, aku sempat takut untuk pergi ke puskesmas karena khawatir akan mendapatkan diagnosis COVID-19.

Pada akhirnya, aku dirujuk ke RS Persahabatan dan dirawat di ICCU, yaitu ruang perawatan khusus orang dengan penyakit jantung. Aku mendapatkan perawatan di ICCU selama 7 hari dengan 4 hari menjalani intubasi. Selama perawatan di ICCU, aku merasa kehilangan semangat hidup. Aku juga sangat hancur ketika seorang dokter mengatakan “Masih muda punya penyakit jantung, ini tidak bisa sembuh dan tidak ada tanda-tanda sembuh” dengan cara yang sangat tidak nyaman dan membuatku marah. Tapi di sisi lain, perawat di ICCU sangat baik dan membuatku memiliki semangat hidup lagi.

Aku juga setelah itu dirujuk ke RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita. Di RS Harapan Kita, aku mendapatkan diagnosis hipertensi paru. Oleh karenanya, aku perlu untuk konsumsi obat hipertensi paru setiap hari (tidak boleh putus). Aku juga perlu minum obat jantung seperti furosemide, spironolactone, dan KSR (suplemen kalium).

Karena penasaran dengan kondisiku, aku mencari informasi di media sosial dan menemukan Yayasan Hipertensi Paru Indonesia (YHPI), sebuah yayasan dan komunitas untuk penyintas hipertensi paru. Aku kemudian bergabung sebagai anggota. Aku merasa sangat senang dan terbantu oleh YHPI.

Contohnya, aku merasa terbantu ketika aku harus menebus obat yang jarang tersedia di apotek biasa. Memang, obat untuk hipertensi paru relatif langka/terbatas dan harganya bisa sangat mahal (misal: Rp250-300 ribu untuk 5 hari). Karena adanya apotek yang bekerja sama dengan YHPI, aku dapat lebih mudah mendapatkan obat untuk hipertensi paru. Selain itu, aku juga terhubung dengan sesama pasien hipertensi paru dan bisa saling berbagi cerita bersama tanpa merasa dihakimi. Aku juga jadi mengetahui ternyata banyak pasien hipertensi paru lainnya yang kondisinya lebih berat dan merasa tidak sendirian.

Aku sekarang sudah lebih bisa ikhlas, meskipun sempat melalui proses di mana aku hanya ingin marah dan ingin mengakhiri hidup. Aku juga pernah dikecewakan oleh teman yang kuanggap sebagai keluarga, tapi ternyata mereka merendahkanku di belakang. Namun, berkat dukungan yang tulus dari orang-orang di sekitarku, aku memilih untuk melanjutkan hidup. Aku berusaha untuk sabar dan percaya, “Setelah hujan pasti akan ada pelangi. Setelah kesulitan pasti akan ada kemudahan”.

Tentang Tria Utari

Aku Tria dan berusia 28 tahun. Aku tinggal di Jakarta Utara. Aku sudah lulus kuliah, sarjana Administrasi Bisnis di Institut STIAMI Tahun 2019. Saat ini aku belum bekerja. Aku hanya membantu orang tua menjalankan sebuah bisnis, juga mempelajari berbagai bidang untuk meningkatkan keterampilan dan keahlian yang saya miliki.