Sejak Februari 2022, aku terkena COVID-19. Aku dirawat di rumah sakit selama satu minggu. Baru pulang sehari, aku harus masuk rumah sakit lagi karena ISK, tipes, dan bahkan osteoartritis lutut, padahal usiaku belum 20 tahun.

Februari–Maret 2022 aku bolak-balik dirawat. Setelah itu, aku terus sakit-sakitan. Pemeriksaan seperti rontgen, CT scan, dan tes lab menjadi hal biasa.

Pada Oktober 2022, aku dirawat lagi karena bronkopneumonia. Desember 2022, aku masuk rumah sakit lagi karena nyeri lutut dan tulang belakang. Tapi anehnya, dokter hanya menyangka ada masalah pencernaan dan depresi. Padahal nyerinya sangat kuat, terutama saat berbaring, bangun tidur, atau saat diam.

Akhir 2022 terasa sangat berat. Aku hidup bergantung pada painkiller tanpa tahu apa penyakitku. Ada yang bilang aku lebay hanya karena nyeri di tulang belakang dan lutut.

Februari 2023, aku memutuskan pergi ke obgyn sambil membawa semua rekam medis. Saat terakhir dirawat, ditemukan ada kista. Syukurlah kistanya aman. Tapi obgyn terkejut karena aku sudah mengalami osteoartritis di usia 20 tahun. Aku lalu diarahkan ke ortopedi.

Hari itu juga aku ke ortopedi. Dokternya juga kaget aku sudah mengalami osteoartritis. Aku diberi painkiller untuk diminum saat kambuh. Setelah itu, aku pergi keluar negeri untuk memastikan apakah aku benar depresi seperti dugaan internist.

Namun di sana pun aku tetap merasakan nyeri yang sama. Itu membuatku yakin bahwa ini bukan depresi.

Aku kembali ke ortopedi. Dokternya kaget karena aku masih merasakan nyeri kuat. Ia menyarankan MRI karena khawatir ada saraf terjepit.

Aku juga mencari second opinion ke seorang profesor gastro. Beliau berkata, “Kenapa ini disangka gangguan pencernaan? Hasil pemeriksaan pencernaannya bagus. Harusnya ke dokter rheumatologi.”

Aku baru tahu siapa itu rheumatologist. Selama ini aku hanya disangka punya masalah pencernaan.

Masih di Februari 2023, aku mencari rheumatologist terdekat, yaitu dr. Faisal Parlindungan, Sp.PD-KR di RSUI. Aku membawa semua hasil rekam medis dan surat rujukan dari gastro.

Saat pertemuan pertama, beliau berkata, “Saya sudah tahu arahnya. Tapi saya mau cek semuanya dulu ya,” dan menyarankan MRI, CT scan, rontgen, dan banyak tes lab. Beliau menyarankan pemeriksaan di RS Mayapada Kuningan agar MRI lebih cepat.

Aku dirawat lagi untuk semua pemeriksaan itu.

Tujuh hari kemudian, akhirnya aku mendapat jawaban: Aku didiagnosis autoimun jenis spondiloartritis.

Sejak itu aku harus minum obat dan kontrol rutin sampai sekarang.