X: “kayaknya gue ADHD deh, soalnya gue pelupa banget nih” Y: “Gue juga gitu, tau, pelupa parah, gak bisa konsentrasi, dan selalu kedistract. Kayaknya kita semua gitu gak sih?”
Begitulah beberapa respons yang umum ketika aku bilang kalau aku punya ADHD, walau di tengah orang-orang yang aku rasa sudah cukup well-educated, paham dan juga ter-expose terhadap isu ini.
Tapi ADHD bukan cuma masalah pelupa, hiperaktif atau distraksi. Kayak lo pelupa, tapi ini pelupa sepanjang hidup lo, di berbagai kesempatan dan peristiwa! Lupa naroh kunci, handphone, belum setting share email di google pas dokumen udah dikirim di kerjaan? Itu biasa. Tapi pernah nggak lupa sampai mengancam keselamatan? Kaya lupa, matiin kompor sampai rumah penuh asap karena langsung ditinggal pergi (untung nggak kebakaran 🙁). Atau nggak lulus SBMPTN (ujian masuk PTN yang sudah dipersiapkan berbulan-bulan) karena lupa mengisi kode soal saat ujian? Ya, in any context and on any occasion. Itu masih dalam konteks “attention” dan itu juga belum “kecerobohan” dari traits yang lain.
Kalau lo juga sama, selamat yaa! You have a hidden disability for your entire life!
Sebenarnya gak butuh waktu lama untuk menyadari ada yang “berbeda” karena patternnya sungguh terlihat dan teramat jelas, walau waktu itu juga belum yakin apakah ini ADHD atau bukan? Untuk ADHD dewasa sendiri, asesmen jadi cukup complicated karena banyak diagnosis lain yang harus disingkirkan terlebih dahulu karena gejala ADHD juga overlapping dengan banyak gangguan neurodevelopmental ataupun mental disorder lain. Tapi butuh waktu yang lama untuk menerima bahwa aku memiliki ADHD dan mungkin juga memiliki komorbid lainnya. Diagnosis yang saat itu diterima juga berbeda-beda dari tiap psikiater.
Aku yang kebingungan ini sebenarnya diagnosisnya apa? Dan bingung karena tiap psikiater punya perspektif yang berbeda-beda. Akhirnya, aku pun seperti shopping diagnosis, mendatangi berbagai psikiater yang kuanggap “senior” berdasarkan track record akademis dan pengalamannya. Aku ingat dalam 1 tahun aku bahkan datang ke 5 psikiater dan psikolog di Jabodetabek, hanya untuk memastikan aku baik-baik saja. Berbagai, alat ukur juga kucoba mulai dari MPPI hingga Brain Mapping, yang mungkin aku anggap pada saat itu “lebih objektif”. Namun, diagnosis psikiatri juga tidak sesederhana membaca alat ukur, apalagi di tengah mental state-ku yang bisa saja sedang berada pada fase yang berbeda saat konsultasi. Aku tidak menyalahkan pskiater karena perbedaan diagnosis yang ku terima, memang untuk urusan ini cukup pelik dan aku yakin semua itu dilakukan agar tidak salah diagnosis dan pasien juga dapat lebih function menjalani hidup.
Saat itu yang kulakukan hanya terus menebus obat yang diresepkan tiap psikiater, tapi tetap belum minum obat karena aku sendiri merasa baik-baik saja, walau tahu kalau sebenarnya gak baik-baik saja. Aneh memang. Butuh waktu lama untuk mencoba meminum obat dari psikiater, karena aku tahu obat ini mungkin akan diminum dalam jangka panjang. Walau sebenarnya saat itu aku juga tahu mungkin memang butuh minum karena pola mulai dari pelupa yang makin parah, burnout dan mood yang makin gak jelas—kadang baik dan kadang buruk—itu berulang terus-menerus hingga lelah, walau masih dikategorikan “high-functioning”. Apalagi, ADHD pada dewasa gak bisa asal diberikan resep stimulan karena perlu dianalisis indikasi lain dan menyingkirkan komorbiditas jika ada.
Sampai akhirnya, setelah berdiskusi dengan salah seorang psikiater dan menemukan kesimpulan bahwa apa pun diagnosisnya, yang terpenting adalah bagaimana orang tersebut dapat berfungsi secara optimal dan menjalani hidupnya dengan baik. Setelah mencoba menerima kenyataan itu, aku mencoba lebih cabang olahraga (lari, pilates) karena ternyata olahraga juga cukup membuatku tenang. Namun, pattern lama tetap berulang. Aku kembali ke psikiater dan berserah diri untuk minum obat ADHD yang diresepkan. Mencoba kemungkinan-kemungkinan baik setelahnya, siapa tahu ternyata memang lebih baik?
Keputusan terbesarku setelah shopping diagnosis di berbagai psikiater: akhirnya aku mulai minum obat. Hasilnya, ternyata, aku gak pernah menyangka otakku yang berisik itu bisa tenang juga, ya. Bisa lebih fokus, bahkan bisa denger hidden-hidden voice di sekitar, yang sebelumnya kayak terdistraksi aja. Gak nyangka ya? Ternyata bisa, loh. Pikirannya nggak se-jumping ini; nggak pernah ngerasa se-fokus dan se-tenang ini selama 30 tahun aku hidup. Kok bisa ya? Apakah ini yang dirasakan oleh otak neurotypical? Aku gak tahu dan mungkin gak akan pernah tahu jawabannya.
Buatku, ini baru langkah awal untuk memahami cara kerja otakku sendiri, mencoba mengenali “rasa” baru yang kadang masih terasa “aneh”. Ya bayangin aja, walau ini emang lebih “tenang” tapi selama ini lo taunya otak lo yang “chaos”, jadi masih “aneh” aja. Mungkin ini, tahap awal supaya bisa lebih function dan berusaha mencoba membuat sistem baru buat otakku dengan atau tanpa obat nanti.
Buat kamu yang ngerasa punya ADHD juga dan sudah mengganggu hidupmu, segeralah datang ke profesional dan mencari bantuan. Buat kamu, yang masih ragu untuk mencoba obat, percayalah kita gak akan pernah tau hasilnya kalau gak pernah mencoba 🙂
Tentang R
R (Product Researcher yang baru di diagnosis ADHD ketika dewasa. Saat kecil sempat didiagnosis speech delay namun tidak menjalani treatment lanjutan. Sering merasa, keunikan-keunikan selama hidupnya dan ternyata sebagian bisa dijawab oleh diagnosis ADHD. Menjalani kehidupan sebagai product researcher pada umumnya dan survive hingga sekarang)

