Anak saya, M, sudah terlihat sangat aktif sejak ia berusia 1 tahun dan mulai bisa berjalan. Pada saat itu, saya adalah seorang ibu rumah tangga yang mengalami kekerasan fisik, verbal, dan finansial. Kondisi tersebut membuat saya mengalami depresi.

Pada tahun 2022, ketika M berusia 1 tahun 10 bulan, ia terjatuh dari tangga di rumah kakak saya saat waktu magrib. Saat itu saya dan keluarga sedang lengah mengawasi. Sebelumnya, sejak M masih bayi dan bahkan belum berusia 1 bulan, ia sudah mendapat kekerasan dari ayah kandungnya. M pernah dibekap dengan bantal. Saya dan M juga sering dijadikan kambing hitam seolah-olah kami adalah pembawa sial yang menyebabkan meninggalnya kakek M dari pihak ayah pada masa pandemi 2020.

Ketika M jatuh pada tahun 2022, dokter bedah yang memeriksanya belum mendiagnosis ADHD yang kemudian diketahui sebagai faktor genetik. Di kepalanya muncul benjolan akibat benturan, tetapi tidak menunjukkan tanda kegawatdaruratan.

Namun, ayah kandungnya tetap tidak membantu. Bukannya membawa M berobat, ia justru memukuli saya dan mengusir saya serta M dari rumah kontrakan. Ia tidak peduli dengan kondisi anaknya dan tidak memberikan bantuan untuk pengobatan.

Akhirnya saya bawa M berobat sendiri. Pada akhirnya M harus menjalani operasi karena ditemukan pembekuan darah di kepala. Seluruh proses tersebut saya jalani tanpa pendampingan ayah kandungnya.

Sampai sekarang, tahun 2025, M masih menjalani pengobatan jalan untuk mengurangi perilaku impulsif dan hiperaktif yang dapat membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Ia menjalani terapi obat dari psikiater, terapi sensori, dan terapi psikolog. Semua pengobatan dilakukan menggunakan BPJS.

Tentang T

KDRT survivor & single mom dengan 1 anak ADHD.