Aku ingat saat itu hari minggu pagi. Tiba-tiba salah satu adikku menelpon, mengabarkan bahwa mata kiri ibuku mendadak punya banyak bintik hitam. Pekat dengan beragam ukuran. Katanya bintik-bintik itu muncul selepas dia keluar dari aula RT dan berjalan ke rumah yang hanya berjarak 100 meter. Saat itu mataharinya terlampau terik hingga ibu merasanya matanya tidak bisa melihat cahaya seperti biasa. Begitu masuk ke rumah yang cukup redup dibandingkan di luar, barulah ia tau ada bintik-bintik di matanya. Ibu meminta salah satu adikku untuk memastikan apakah ada bintik-bintik hitam di bola mata kirinya. Adikku memastikan berkali-kali, tetap nihil. Bintik-bintik itu hanya bisa dilihat ibuku saja.
Ibu bilang tidak perlu panik, ini pasti bisa hilang. Ketenangannya patut dipuji.
Besok paginya kami berangkat ke puskesmas dan dirujuk ke rumah sakit mata. Diagnosanya adalah low vision retinophaty. Dokter memberi beberapa obat tetes, dan menjadwalkan kunjungan lanjutan dua minggu kemudian.
Ibuku tidak berkata banyak. Dia percaya ini semua bisa hilang. Tapi kami tetap khawatir.
Setelah beberapa bulan rawat jalan, syukurlah hasilnya signifikan. Kata dokter karena langsung ditangani dan tindakannya tepat, maka hasil yang didapat juga maksimal.
Konsisten berobat dan tawakal ternyata kunci kesembuhan. Khawatir boleh, tapi tidak berlebihan. Untuk semua orang yang punya anggota keluarga disabilitas, my toughts and prayers are with you!

