Manusia adalah makhluk dengan latar belakang yang beragam. Ada yang tua, ada yang muda; ada yang neurodiverse; ada yang sedang menghadapi keterbatasan fisik permanen; ada yang punya keterbatasan sementara; ada yang dalam situasi spesifik yang membatasi interaksi. Desain inklusif menempatkan keberagaman manusia dalam merancang produk atau layanan sejak awal dengan mempertimbangkan pengguna yang datang dari berbagai latar belakang: berbeda usia, gender, bahasa, budaya, kemampuan fisik, kognitif, bahkan kondisi situasional.

Desain inklusif penting karena realitas sosial dan teknologi saat ini. Dunia digital sudah menjadi ruang untuk manusia beraktivitas dan berinteraksi. Ketika akses digital terhambat karena desainnya yang tidak mendukung, sama saja dengan menghalangi orang untuk hidup seperti layaknya manusia pada umumnya. Sayangnya, layanan atau produk yang beredar saat ini kebanyakan belum memperhatikan inklusivitas dari desainnya.

Masalah tersebut biasanya disebut eksklusi. Eksklusi seringkali muncul karena tidak disadari. Desainer terbiasa mendesain berdasarkan asumsi bahwa semua orang punya koneksi internet cepat, bahwa semua orang melihat warna dengan cara yang sama, atau bahwa semua orang nyaman membaca teks panjang di layar kecil. Padahal, kenyataannya jauh berbeda. Ada orang dengan keterbatasan penglihatan yang mengandalkan pembaca layar. Ada orang yang hanya punya ponsel kelas bawah dengan penyimpanan terbatas. Ada orang yang harus menggunakan aplikasi sambil menggendong bayi atau di tengah keramaian. Semua itu adalah bentuk nyata keragaman pengguna yang harus diakui.

Prinsip-prinsip kunci

Ada tiga prinsip utama dari Microsoft:

  • Recognize Exclusion: sadari sumber eksklusi dan akui keberadaannya.
  • Learn from Diversity: libatkan pengguna dengan latar belakang berbeda sepanjang proses desain, dari riset hingga uji coba.
  • Solve for One, Extend to Many: buat fitur khusus untuk tipe pengguna tertentu yang bisa memberi manfaat lebih luas.

Selain itu, ada tujuh prinsip tambahan dari pakar aksesibilitas tahun 2017 yang membuat panduan lebih konkret:

  • Provide a Comparable Experience: pastikan semua orang bisa mencapai tujuan yang sama tanpa merasa dapat versi downgrade. Misalnya: pengguna screen reader tetap bisa menyelesaikan checkout belanja online dengan lancar.
  • Consider Situation: sesuaikan desain dengan konteks penggunaan karena pengalaman orang berubah. Misalnya: aplikasi pesan instan bisa fallback ke SMS jika internet hilang.
  • Be Consistent: gunakan pola dan bahasa yang jelas serta familiar. Misalnya: tombol “lanjut” jangan berganti menjadi “next” atau “proceed.”.
  • Give Users Control: beri ruang bagi pengguna untuk mengatur pengalaman sesuai kebutuhan mereka. Misalnya: memperbesar teks, mengaktifkan dark mode, atau mengatur volume notifikasi terpisah.
  • Offer Choice: sediakan lebih dari satu cara untuk menyelesaikan tugas. Misalnya: metode pembayaran bisa kartu, e-wallet, atau transfer bank.
  • Prioritize Content: tampilkan informasi atau tindakan yang paling penting lebih dulu. Misalnya: gunakan judul yang tegas, tombol utama kontras, dan sembunyikan info tambahan.
  • Add Value: tambahkan fitur yang membuat pengalaman lebih kaya dan fleksibel. Misalnya: “show password” di form login, subtitle di video, atau voice command.

Proses desain inklusif

Desain inklusif bisa masuk ke alur desain yang ada, cukup dengan menambah lapisan inklusivitas di tiap tahap.

  1. Pahami konteks: lakukan riset awal untuk mengenali siapa saja pengguna potensial. Perhatikan juga faktor budaya, sosial, teknologi, dan lingkungan.
  2. Gali kebutuhan: libatkan orang secara langsung lewat observasi, wawancara, atau workshop. Cari insight tentang hambatan nyata yang mereka hadapi.
  3. Terjemahkan insight: ubah temuan tadi menjadi kriteria desain yang jelas. Misalnya: “teks harus bisa terbaca dengan kontras rendah,” atau “form nama harus menerima tanda aksen.”
  4. Bangun skenario: buat persona atau storyboard dari perspektif pengguna yang berbeda. Bayangkan bagaimana mereka menggunakan produk dan tantangan yang muncul.
  5. Uji dengan pengguna: uji prototipe bersama pengguna dengan latar belakang beragam, bukan hanya “target utama.” Gunakan feedback mereka sebagai dasar iterasi.
  6. Bangun sumber daya: dokumentasikan semua insight dan praktik baik. Dokumentasi ini akan menjadi aset berharga untuk proyek berikutnya.

Contoh-contoh praktek desain inklusif

Beberapa kasus nyata bisa membantu membayangkan bentuk penerapannya:

  • Gunakan desain teks dan mode gelap: sediakan opsi untuk memperbesar font atau mengaktifkan dark mode. Langkah ini membantu lansia sekaligus pengguna yang membaca di malam hari.
  • Izinkan form nama internasional: beri ruang untuk tanda baca, aksen, atau panjang nama yang bervariasi. Cara ini membuat sistem lebih ramah bagi orang dari berbagai budaya.
  • Sediakan filter produk yang relevan: tampilkan pilihan seperti “jenis rambut” atau “tone kulit” di marketplace. Fitur ini memudahkan orang menemukan produk sesuai kebutuhan unik mereka.
  • Tampilkan visual representatif: gunakan ilustrasi atau foto yang menunjukkan keragaman warna kulit, gender, dan kondisi tubuh. Dengan begitu, pengguna merasa diakui keberadaannya.
  • Rancang produk fisik yang ergonomis: pastikan alat atau benda memiliki desain seimbang dan nyaman. Contohnya gagang alat dapur yang cocok untuk berbagai jenis genggaman tangan.

Tantangan yang perlu disadari

Beberapa tantangan umum dalam penerapan desain inklusif antara lain:

  • Tekanan bisnis yang lebih fokus pada pertumbuhan cepat daripada kualitas pengalaman.
  • Keterbatasan waktu dan sumber daya tim untuk melakukan riset inklusif.
  • Budaya organisasi yang masih melihat aksesibilitas atau inklusivitas sebagai “tambahan,” bukan standar.
  • Sulitnya mengukur dampak langsung, karena manfaatnya sering muncul dalam jangka panjang.

Namun, setiap langkah kecil punya arti. Desainer tetap perlu menambahkan teks alternatif pada gambar, memperbaiki kontras, atau melibatkan pengguna yang lebih beragam dalam uji coba sudah menjadi kontribusi nyata menuju produk yang lebih adil.

Manfaat yang lebih luas

Desain inklusif membawa manfaat ganda:

  • Bagi pengguna, desain inklusif memberikan pengalaman yang adil, nyaman, dan bisa diakses siapa pun.
  • Bagi bisnis, desain inklusif memperluas pasar, meningkatkan reputasi merek, mengurangi risiko hukum, mendorong inovasi, dan menciptakan keunggulan kompetitif.

Praktek yang bisa dimulai sekarang

Desain inklusif bisa dimulai dari langkah kecil:

  • Riset dengan melibatkan partisipan dengan latar belakang yang beragam.
  • Bangun tim desain dengan latar belakang yang berbeda-beda.
  • Terapkan standar aksesibilitas sejak awal.
  • Sediakan opsi kustomisasi.
  • Uji produk dalam kondisi nyata dengan partisipan yang beragam.
  • Dokumentasikan insight agar tidak hilang.
  • Edukasi stakeholder dengan cerita nyata dari pengguna.

Kesimpulan

Desain inklusif mengakui bahwa semua orang punya keterbatasan dan kebutuhan yang berbeda-beda—permanen, sementara, atau situasional. Orang dengan satu tangan permanen, orang dengan tangan cedera, sampai orang tua yang sedang menggendong bayi—semua menghadapi tantangan yang mirip.

Jika desainer mendesain dengan cara pikir ini, produk yang lahir akan lebih adil, lebih fleksibel, dan lebih relevan. Jadi, desain inklusif menjadi pilihan yang etis dan strategi cerdas untuk menciptakan produk yang benar-benar bisa dipakai siapa saja.