Membuat kebijakan aksesibilitas

Kebijakan aksesibilitas adalah aturan tertulis yang menunjukkan komitmen organisasi untuk memastikan individu dengan disabilitas bisa mengakses orang, tempat, produk/layanan, proses, dan layanan digital. Ruang lingkup kebijakan biasanya mencakup:

  • People (orang dan pekerjaan): Kamu memastikan proses rekrutmen, pekerjaan sehari-hari, dan akomodasi yang layak berjalan inklusif. Contohnya: portal lamaran yang aksesibel, prosedur akomodasi yang jelas, serta rencana pemenuhan afirmasi kerja sesuai UU 8/2016.
  • Places (tempat): Kamu menetapkan kebijakan agar gedung, toko, klinik, kampus, atau ruang layanan memenuhi elemen dasar bangunan aksesibel, seperti ramp, lebar pintu, jalur pemandu, pegangan, lift, toilet aksesibel, parkir disabilitas, jalur evakuasi, dan kursi inklusif. Acuannya adalah Permen PUPR No. 14/2017.
  • Products/Services (produk/layanan): Kamu menetapkan cara melayani pelanggan agar aksesibel, misalnya antrian yang mudah digunakan, formulir yang jelas, bahasa yang mudah dipahami, opsi komunikasi (telepon, SMS, aplikasi pesan), aturan pendamping dan hewan pemandu, hingga bantuan pengisian formulir.
  • Processes (proses): Kamu membuat kebijakan untuk pengadaan barang/jasa, komunikasi publik, penanganan keluhan, dan kesiapsiagaan darurat. Misalnya: menambahkan klausul aksesibilitas di permintaan penawaran atau kontrak (ACR/VPAT + uji sampel untuk TIK), gambar teknis untuk pekerjaan fisik, serta memastikan dokumen, video, dan signage aksesibel dengan informasi kontak yang mudah.
  • Digital: Kamu menetapkan kebijakan agar layanan digital memenuhi WCAG Level AA. Caranya dengan menggabungkan uji otomatis, uji manual, dan uji oleh individu dengan disabilitas, serta melakukan perbaikan rutin, bukan audit sekali saja.

Rujukan standar internasional yang dapat digunakan:

  • Pedoman WCAG dari W3C
  • ISO 30071-1 untuk proses aksesibilitas antarmuka
  • EN 301 549 untuk pengadaan TIK
  • Kerangka hak penyandang disabilitas dari UN-CRPD

Rujukan hukum di Indonesia:

  • UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas
  • Permen PUPR No. 14/2017 tentang persyaratan aksesibilitas bangunan
  • Perpres No. 95 Tahun 2018 tentang SPBE sebagai acuan layanan digital sektor publik (juga relevan untuk praktik baik di sektor swasta)

Tetapkan tanggung jawab

Kamu perlu memahami peran apa saja yang dibutuhkan agar semua tugas aksesibilitas dapat ditangani dengan baik.

Tanggung jawab untuk menerapkan aksesibilitas harus diberikan kepada orang-orang tertentu dan dimasukkan ke dalam deskripsi pekerjaan mereka. Dengan menetapkan tanggung jawab secara formal, kamu memastikan bahwa mereka punya waktu untuk mengerjakannya dan bisa mendapatkan pelatihan yang diperlukan. Penetapan peran yang jelas juga membantu semua orang mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas aksesibilitas dan bahwa hal ini menjadi prioritas organisasi.

Penting untuk diingat bahwa penerapan aksesibilitas bukan hanya tugas pengembang, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh tim. Membagi peran ke berbagai bagian proyek dan organisasi akan meningkatkan kesadaran dan mengurangi risiko pekerjaan menumpuk pada satu orang atau satu tim saja. Contoh pembagian tanggung jawab meliputi:

  • Marketing: memasukkan aksesibilitas ke dalam pedoman merek atau desain.
  • Quality assurance: menguji dan melacak isu aksesibilitas dalam kode.
  • Development: menjaga pustaka kode agar komponen yang digunakan tetap aksesibel.
  • Purchasing: memastikan kebijakan aksesibilitas organisasi masuk dalam proses pengadaan.
  • Acceptance testing: memastikan situs atau komponen dari vendor memenuhi tingkat aksesibilitas yang ditetapkan.
  • Recruitment: memasukkan keterampilan aksesibilitas dalam profil rekrutmen.

Menentukan anggaran dan sumber daya

Kamu perlu memastikan bahwa semua sumber daya, termasuk anggaran, sudah jelas dan tersedia untuk kegiatan aksesibilitas. Ini mencakup kebutuhan untuk melakukan review, pelatihan, audit, dan pengujian bersama individu dengan disabilitas.

Kebutuhan anggaran dan sumber daya bergantung pada tujuan aksesibilitas kamu dan seberapa besar pekerjaan yang harus dilakukan untuk mencapainya. Untuk setiap aktivitas, pikirkan apa saja sumber daya yang dibutuhkan dan pastikan semuanya tersedia. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan antara lain:

  • Evaluasi aksesibilitas: Seberapa sering evaluasi perlu dilakukan dan seberapa luas cakupannya.
  • Evaluasi dengan pengguna: Peluang untuk melibatkan individu dengan disabilitas dalam proses evaluasi.
  • Review kebijakan dan prosedur: Waktu untuk menilai kebijakan yang harus diubah, waktu untuk melakukan perubahan, dan waktu untuk menerapkan perubahan.
  • Rekrutmen: Organisasi dapat mempertimbangkan merekrut spesialis atau koordinator aksesibilitas.
  • Pelatihan staf: Mulai dari peningkatan kesadaran umum sampai pelatihan khusus untuk kebutuhan tertentu, seperti pengembangan situs atau penulisan konten.
  • Peralatan dan alat bantu: Penyesuaian atau penggantian alat pembuatan konten seperti CMS, atau penambahan alat evaluasi aksesibilitas.
  • Dukungan ahli: Dukungan eksternal mungkin dibutuhkan sementara kemampuan internal masih berkembang.

Setelah anggarannya ditentukan, pastikan kamu mendapatkan persetujuan yang cukup. Business case yang sudah dibuat membantu mengamankan anggaran tersebut. Pastikan anggarannya didukung dengan perkiraan dampak terhadap tujuan dan target yang sudah ditetapkan, serta perkiraan manfaat atau return on investment. Ini bisa mencakup peningkatan kinerja situs, berkurangnya biaya pemeliharaan, peningkatan penjualan, statistik pengunjung yang lebih baik, atau meningkatnya reputasi organisasi dalam tanggung jawab sosial.

Meninjau environment (internal/eksternal)

Kamu perlu mempertimbangkan sumber daya, proses, dan alat yang ada di organisasi kamu yang dapat memengaruhi upaya aksesibilitas.

Lingkungan/environment tempat situs dibuat dan dikelola memiliki pengaruh besar terhadap tingkat aksesibilitasnya. Karena itu, kamu juga perlu meninjau aspek-aspek pendukung seperti:

  • Seberapa baik alat pembuatan konten mendukung kamu dalam membuat dan merawat konten yang aksesibel. Misalnya, apakah CMS yang digunakan sudah mendukung komitmen aksesibilitas kamu.
  • Seberapa baik pengetahuan aksesibilitas staf yang membuat dan mengelola situs. Apakah pelatihan yang tersedia sudah cukup untuk meningkatkan kemampuan mereka.
  • Apakah staf memiliki akses ke alat yang tepat untuk membantu melakukan pengujian aksesibilitas.
  • Apakah aksesibilitas dapat ditingkatkan melalui pedoman desain dan pengembangan, spesifikasi, template bersama, library kode, praktik penulisan konten, atau sumber daya terpusat lainnya.
  • Apakah rencana quality assurance sudah memasukkan pemeriksaan aksesibilitas secara khusus.
  • Seberapa baik kebijakan dan proses yang ada mendukung upaya kamu. Misalnya, apakah ada kebijakan pengadaan yang memastikan pembelian alat dan konten yang aksesibel.

Memahami kondisi ini dengan jelas akan membantumu menangani masalah dengan lebih efektif. Misalnya, kamu mungkin menemukan bahwa peningkatan pada CMS atau pelatihan staf dapat mempercepat pencapaian tujuan aksesibilitas kamu secara signifikan.

Audit situs web

Lakukan tinjauan aksesibilitas secara menyeluruh pada situs web yang masuk dalam ruang lingkup tujuan kamu. Langkah ini membantu kamu membuat baseline untuk pekerjaan ke depan, mengetahui apakah kamu membutuhkan pelatihan atau keahlian tambahan, serta memahami seberapa besar masalah yang ada. Tinjauan ini juga dapat menyoroti praktik baik yang sudah diterapkan sehingga kamu bisa mengenali staf atau penyedia yang memiliki keahlian penting untuk dikembangkan.

Hasil tinjauan akan membantu kamu mengidentifikasi masalah yang perlu dihindari pada pekerjaan berikutnya, bahkan jika tujuan kamu adalah sepenuhnya mengganti situs web tersebut. Hasil ini juga bermanfaat untuk pelaporan kepada pemangku kepentingan, karena dengan menyoroti masalah yang ada dan dampaknya, kamu dapat memberikan konteks ketika perubahan positif mulai terlihat.

Pengecekan aksesibilitas bisa kamu lakukan di semua tahap proses, bukan hanya ketika situs web sudah selesai. Misalnya, pilihan warna sudah bisa kamu uji sejak tahap desain mockup. Dengan memulai lebih awal dan mengecek secara berkala sepanjang proyek, kamu mengurangi risiko terjebak pada keputusan desain awal yang mahal untuk diperbaiki di kemudian hari. Bantuan ahli mungkin kamu perlukan jika kamu tidak memiliki sumber daya dengan keterampilan dan pengalaman yang cukup untuk melakukan tinjauan menyeluruh.

Membangun kerangka pemantauan

Buat cara standar untuk memantau dan melaporkan temuan, supaya kamu bisa melacak dan menunjukkan progres.

Tonggak pencapaian (milestones) yang terdefinisi dengan jelas membantu kamu mengukur progres. Pastikan setiap tonggak memiliki kriteria khusus dan terukur sehingga kamu bisa melihat perkembangan yang terjadi.

Beberapa contoh kriteria meliputi:

  • Jumlah WCAG Success Criteria yang lulus, beserta levelnya.
  • Jumlah keluhan terkait aksesibilitas.
  • Jumlah panggilan dari individu yang tidak dapat memproses aplikasi secara daring.
  • Jumlah komentar positif di media sosial mengenai aksesibilitas layanan.
  • Jumlah sesi pelatihan aksesibilitas yang diberikan kepada staf.

Pastikan progres aksesibilitas menjadi bagian dari pelaporan standar untuk semua bagian organisasi yang memiliki tanggung jawab terkait aksesibilitas.

Ada baiknya kamu mengembangkan struktur laporan standar untuk mengukur tingkat aksesibilitas situs web atau alat yang digunakan. Struktur yang konsisten memudahkan kamu membandingkan antara situs web yang berbeda maupun membandingkan versi-versi dari situs web yang sama.

Untuk tujuan jangka panjang atau berkelanjutan, kamu perlu merencanakan pemantauan rutin agar pencapaian yang sudah diraih tidak menurun. Misalnya, pembaruan konten atau pemeliharaan situs web dapat memperkenalkan hambatan aksesibilitas baru, atau staf baru mungkin belum memiliki keterampilan yang diperlukan. Rencanakan peninjauan berkala untuk memonitor progres dari waktu ke waktu. Pastikan ada pihak yang bertanggung jawab melakukan pengecekan dan ada jalur eskalasi yang jelas untuk setiap isu yang ditemukan.

Melibatkan pemangku kepentingan

Pertahankan dukungan jangka panjang melalui komunikasi rutin dengan manajemen dan para pemangku kepentingan.

Libatkan para pemangku kepentingan untuk memastikan mereka mendukung upaya kamu dan untuk mengidentifikasi bagaimana mereka bisa membantu kamu mencapai tujuan aksesibilitas. Ini mencakup pemangku kepentingan internal seperti tim proyek, pemasaran, dan manajemen, serta pemangku kepentingan eksternal seperti pemasok, kelompok advokasi, dan pelanggan. Beberapa contohnya:

  • Memasukkan aspek aksesibilitas dalam kampanye pemasaran.
  • Melaporkan perkembangan kepada manajemen.
  • Bernegosiasi dengan pemasok agar dukungan terhadap aksesibilitas semakin baik.
  • Mengikuti tren aksesibilitas terbaru melalui para advokat dan champion.
  • Menyediakan kanal umpan balik untuk terhubung dengan pelanggan dan pengguna akhir.

Komunikasikan upaya kamu secara publik untuk membantu membangun ekspektasi sekaligus meningkatkan komitmen internal terhadap aksesibilitas. Sebuah pernyataan aksesibilitas yang menjelaskan bagian situs web yang sudah berfungsi baik maupun yang masih bermasalah, rencana peningkatan ke depan, serta opsi kontak bagi pelanggan untuk melaporkan isu, dapat membantu kamu melewati masa transisi dan mengumpulkan umpan balik untuk memprioritaskan perbaikan.