Definisi & fungsi utama

Juru Bahasa Isyarat (JBI) membantu individu dengan disabilitas pendengaran dan orang dengar. JBI menerjemahkan bahasa isyarat dari bahasa lisan ke bahasa isyarat dan dari bahasa isyarat ke bahasa lisan secara langsung. Proses menerjemahkan bahasa isyarat oleh Juru Bahasa Isyarat termasuk memahami dan menyampaikan ekspresi wajah, nada emosi, penekanan makna, dan konteks pembicaraan.

Secara rinci, fungsi Juru Bahasa Isyarat meliputi:

  • Menghubungkan komunikasi antara individu dengan disabilitas pendengaran dan orang dengar agar kedua pihak saling memahami satu sama lain.
  • Memastikan informasi tersampaikan secara menyeluruh termasuk emosi dari pembicara.
  • Mendukung hak individu dengan disabilitas pendengaran untuk mendapatkan akses informasi yang setara dalam berbagai situasi.

Ada 5 kategori Juru Bahasa Isyarat:

  • Juru Bahasa Lisan: orang yang memiliki kemampuan untuk menerjemahkan bahasa isyarat dengan metode oral untuk individu dengan disabilitas pendengaran yang dapat membaca gerak bibir (lip reading).
  • Juru Bahasa Bersertifikat: juru bahasa yang bekerja di bidang khusus seperti kepolisian. Sertifikasi diperlukan karena bidang-bidang ini melibatkan situasi dengan risiko tinggi seperti proses hukum, interogasi, atau persidangan di mana kesalahan menerjemahkan dan menafsirkan bahasa isyarat dapat berdampak serius pada hak dan keselamatan klien. Sertifikasi memastikan juru bahasa memiliki kemampuan yang sudah diuji dan diakui secara resmi termasuk penguasaan istilah-istilah khusus yang digunakan di bidang tersebut dan kemampuan untuk tetap netral dalam situasi yang penuh tekanan.
  • Juru Bahasa Isyarat Tuli: individu dengan disabilitas pendengaran yang mampu menjadi guru bahasa isyarat bagi individu yang lain.
  • Juru Bahasa Isyarat Umum: orang yang memiliki kemampuan dalam berbahasa isyarat yang bertugas di layanan umum seperti di rumah sakit. Berbeda dari Juru Bahasa Bersertifikat, kategori ini menangani situasi yang lebih umum dan bervariasi sehingga tidak mensyaratkan sertifikasi khusus. Yang diprioritaskan adalah kemampuan berkomunikasi secara luas agar dapat melayani berbagai kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Ragam disabilitas yang terbantu

  • Individu dengan disabilitas pendengaran (Tuli)
  • Individu dengan disabilitas pendengaran (Tuli) dan kemampuan baca tulis terbatas
  • Individu dengan disabilitas pendengaran (Tuli) yang memiliki kebutuhan komunikasi khusus

Cara kerja

  1. Persiapan Sebelum Bertugas
    • JBI harus mengetahui topik yang akan dibahas.
    • JBI harus memahami siapa audiensnya.
    • JBI harus mengetahui durasi kegiatan.
    • JBI harus memastikan kondisi tempat dan pencahayaan.
    • JBI harus memastikan bahasa yang digunakan pembicara.
    • JBI mendiskusikan kebutuhan khusus dengan penyelenggara atau klien.
  2. Kode Etik Juru Bahasa Isyarat (World Association of Sign Language Interpreters):
    • JBI harus memakai berpakaian rapi, tidak menggunakan warna mencolok, dan tidak memakai perhiasan karena individu dengan disabilitas pendengaran harus melihat gerakan tangan dengan sempurna.
    • JBI tidak boleh ikut campur dan memberikan saran atau opini kepada klien.
    • JBI harus menyampaikan informasi secara menyeluruh tanpa mengurangi atau menambah informasi.
    • JBI wajib menjaga kerahasiaan klien.
    • JBI harus menjelaskan kosakata sulit kepada klien jika diperlukan.
    • JBI harus menanyakan posisi yang cocok kepada klien sehingga klien bisa dengan jelas melihat gerakan tangan dengan sempurna.
  3. Proses Menerjemahkan Bahasa Isyarat
    • Interpretasi simultan: JBI menerjemahkan secara langsung saat pembicara berbicara. Biasanya digunakan dalam seminar, konferensi, atau rapat besar.
    • Interpretasi konsekutif: JBI menunggu pembicara selesai berbicara, lalu menyampaikan dalam bahasa isyarat. Biasanya digunakan dalam diskusi kecil atau percakapan pribadi.
    • Interpretasi dari isyarat ke lisan: JBI menyampaikan kembali dalam bahasa lisan kepada orang dengar saat orang Tuli berbicara dengan bahasa isyarat.

Kelebihan

  • JBI membuat orang Tuli dapat mengikuti kegiatan publik, pendidikan, layanan kesehatan, dan pekerjaan tanpa kehilangan informasi penting.
  • JBI dapat mengurangi kesalahpahaman karena komunikasi dilakukan lebih jelas dan akurat dibandingkan hanya mengandalkan tulisan atau membaca gerak bibir.
  • JBI membuat orang Tuli dapat aktif bertanya, menyampaikan pendapat, dan berinteraksi secara penuh.
  • JBI membuat penyampaian informasi menjadi lebih cepat karena makna dan konteks pembahasan disampaikan secara langsung.

Keterbatasan

  • Ketersediaan Juru Bahasa Isyarat di berbagai daerah belum merata.
  • Jika dilakukan terus-menerus, JBI akan kelelahan mental dan fisik. Idealnya, JBI bekerja secara bergantian setiap 15 - 20 menit dalam acara panjang.
  • Ada keterbatasan kosakata teknis seperti istilah-istilah di bidang hukum, medis, atau keagamaan. Misalnya, istilah hukum seperti "kasasi" atau "praperadilan", istilah medis seperti "hipertensi" atau "laparoskopi", dan istilah keagamaan seperti "tahlil" atau "ekaristi" belum tentu memiliki padanan isyarat yang baku. Akibatnya, juru bahasa harus menjelaskan maknanya secara panjang atau menggunakan ejaan jari yang dapat memperlambat proses komunikasi.
  • Bahasa isyarat membutuhkan pencahayaan dan posisi yang jelas. Jika tempat terlalu gelap atau posisi tidak terlihat, komunikasi bisa terganggu.
  • Belum ada program studi juru bahasa isyarat di Indonesia, hanya ada lembaga pendidikan dan pelatihan non-formal seperti Pusbisindo.

Video

Ringkasan

Juru Bahasa Isyarat (JBI) adalah profesional yang menjembatani komunikasi antara individu dengan disabilitas pendengaran dan orang dengar. Mereka menerjemahkan bahasa lisan ke bahasa isyarat dan sebaliknya secara langsung, termasuk menyampaikan emosi dan konteks agar pesan dipahami dengan utuh. Peran ini membantu memastikan akses informasi yang setara di pendidikan, pekerjaan, pelayanan kesehatan, dan kegiatan publik.